Mbok Ya-o..

29 Jul

Pada pelihara sholat toh..

PELESETAN KRISTEN DAN BABI

28 Jun

Salah satu masalah yang sering diperbincangkan berbagai kalangan Islam dan Kristen sampai saat ini adalah masalah hukum halal-haramnya babi. Para pendeta dan penginjil, biasanya berkelakar dengan mengatakan bahwa dalam Islam itu “babi haram babu halal”, sedangkan dalam Kristen “babi halal babu haram”. Hal ini dituangkan dalam buku Penginjilan Pribadi yang diterbitkan oleh Christian Centre Nehemia Jakarta. Pada halaman 41 buku tersebut dikutip 5 ayat Al-Qur`an yang di atasnya diberi judul “Babi Haram – Babu Halal”.
Umat Kristiani meyakini bahwa babi halal karena dalam Alkitab (Bibel) Yesus berkata dalam Injil Matius 15: 11, 17-20:
“Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang… Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban? Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang” (majalah Gema Nehemia No. 2 hal. 15-16).
.
Penginjil Miskin Bahasa
Mengolok-olok syariat Islam dengan mengatakan bahwa Islam mengharamkan babi tapi menghalalkan babu, jelas tidak berdasar sama sekali. Tidak ilmiah dan hanya mempermalukan dirinya sendiri, karena hal itu hanya menunjukkan bahwa mereka sangat miskin bahasa, sehingga tidak bisa membedakan arti kata “babu” dengan “budak”.
Dalam Al-Qur`an, tidak satu ayat pun yang menyatakan bahwa pembantu rumah tangga (babu) itu halal (mahram) yang bebas dizinahi, diperkosa dan lain sebagainya seperti anggapan kasar umat Kristiani. Yang disebutkan dalam Al-Qur`an adalah hukum muamalah dengan golongan au maa malakat aimaanukum (budak yang dimiliki). Pendefinisian dan penjabaran makna budak dalam Al-Qur`an pun sangat luas dan penuh maslahat. Salah satunya, hukum perbudakan yang diatur dalam Islam adalah untuk membebaskan umat manusia dari belenggu dan sistem perbudakan.
.
Babi dalam Taurat dan Injil
Dalam salah kitab Taurat disebutkan dengan tegas bahwa Babi itu mutlak haram.
“Dan lagi babi, karena sungguhpun kukunya terbelah dua, ia itu bersiratan kukunya, tetapi ia tiada memamah biak, maka haramlah ia kepadamu. Janganlah kamu makan dari pada dagingnya dan jangan pula kamu menjamah bangkainya, maka haramlah ia kepadamu” (Imamat 11: 7-8).
Haramnya babi itu dipertegas lagi dalam kitab Ulangan 14: 8. Tanpa alasan yang jelas, kata “babi” dalam Alkitab tahun 1970 itu diganti menjadi “babi hutan”. Entah apa maksudnya.
Ribuan tahun setelah berlalu masa Kitab Taurat, kemudian Yesus datang mengulangi penegasan terhadap haramnya babi. Dikatakan bahwa dia datang tidak untuk meniadakan hukum Taurat.
“Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal” (Lukas 16: 17). “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Matius 5: 17).
Dalam Alkitab versi Today’s English 1992, dijelaskan bahwa pengertian menggenapi yang dimaksud dalam ayat ini adalah to make their teachings come true (untuk menunjukkan arti yang sesungguhnya).
Jika Taurat dan Injil sama-sama mengharamkan babi, mengapa mereka berani menghalalkan babi? Karena mereka tunduk kepada doktrin Paulus, antara lain:
“Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus…. Sebab: “tidak ada seorang pun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat” (Surat Paulus kepada Jemaat Galatia 2: 16).
“Kamu boleh makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani” (Surat Paulus kepada Jemaat Korintus yang Pertama 10: 25).
Pandangan Islam dan Medis
Allah itu Thayyib (Maha Baik) dan tidak menerima kecuali thayyiban (yang baik). Maka, meskipun Allah menciptakan bumi dan seisinya untuk manusia (Al Baqarah 29), tetapi Allah hanya membolehkan manusia untuk mengkonsumsi makanan yang halal dan baik saja (Al Baqarah 168) dan tidak berlebih-lebihan (Al A’raaf 31). Otomatis, yang diharamkan Allah adalah makanan yang jelek-jelek saja, di antaranya adalah babi dan bangkai. Dengan tegas dan jelas Allah mengharamkan babi dalam Al-Qur`an:
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah..” (Qs. Al Maaidah 3; lihat: An Nahl 115, Al Baqarah 173).
Setelah diselidiki secara medis, ternyata babi beresiko tinggi terhadap berbagai penyakit ganas yang menular bagi manusia, antara lain:
Penyakit virus: swine influenza (flu babi), swine Vesicular Disease (penyakit kaki dan mulut), Reovirus (penyakit pada pencernaan dan pernafasan). Penyakit bakteri: tetanus, tuberculosis (TBC), antrhrax (virus yang menyerang kulit, pernafasan dan usus), yersiniosis (penyakit dengan gejala: usus buntu akut, radang usus dan keracunan darah), listeriosis, brucellosis, leptospirosis, melioidosis, pasteurellosis, vibriosis, staphlylococcosis, streptococcosis dll.
Penyakit cacing: trichinosis (cacing trichinella spiralis, tak seorang pun kebal terhadap cacing yang hidup di otot manusia ini), ascariasis (cacing yang menghabiskan makanan yang dimakan manusia), paragonimiasis (penyakit cacing dengan gejala: batuk kronis yang disertai darah), taenidae (penyakit cacing pita yang hidup di bawah kulit yang dapat menyerang otak dan berakibat epilepsy, kerusakan jaringan syaraf, dll).
Penyakit jamur: coccidiodomycosis (penyakit yang menyerang paru-paru dengan gejala: demam, menggigil, sakit dada, batuk dan berkeringat pada waktu malam (actinomycetes, superficial & cutaneous mycosis).
.
Dilema Kristiani
Kesimpulannya, dalam kitab Taurat dan kitab para nabi mengharamkan babi. Yesus juga mengharamkan babi, sesuai dengan hukum Taurat. Al-Qur`an tegas mengharamkan babi. Ilmu kedoktoran memperingatkan bahaya penyakit menular akibat makan babi. Hanya Paulus saja satu-satunya yang menghalalkan babi dalam Alkitab (Bibel).
Hasil akhirnya, terserah kepada umat untuk memilih konsumsi. Mau mengikuti Nabi Musa, Isa dan Muhammad yang mengharamkan babi, boleh dan baik!! Karena sejalan dengan ilmu kedoktoran. Atau ikut Paulus yang menghalalkan babi, juga boleh!! Tapi tanggung sendiri resikonya. Berbagai penyakit menular akan hinggap dalam seluruh tubuh anda. Bahkan mungkin akan terkontaminasi berbagai perilaku babi yang menjijikkan.
.
Pandangan Babi Alkitabiah
Setelah meluruskan tuduhan Kristen terhadap Islam tentang babi dan mengkaji keharaman babi dalam pandangan Islam, mari kita kritisi beberapa pandangan Alkitab (Bibel) tentang boleh-tidaknya makan babi.
Nabi Musa dalam kitab Taurat mengharamkan babi (Imamat 11: 7, Ulangan 14: 8), ini jelas dan tidak bisa dibantah lagi. Bahkan Kristen Advent sendiri sampai hari ini masih mengharamkan babi sesuai dengan ayat ini.
Yesus juga tidak menghalalkan babi dan tak ada keterangan dalam Alkitab yang menyebutkan bahwa Yesus makan babi. Bahkan dalam Injil Matius 8: 31-33 diceritakan bahwa Yesus membunuh babi-babi tanpa minta izin kepada pemiliknya dengan cara yang mengenaskan. Yaitu tenggelam di dalam air setelah terjatuh dari tepian jurang. Jika Yesus suka makan babi dan menghalalkan babi, tentunya Yesus tidak akan membunuh babi-babi dalam jumlah yang banyak itu.
Sedangkan keterangan Yesus dalam Injil Matius 15: 11 dan 15: 17-20, ayat ini tidak bisa diterima, karena bertentangan dengan Injil Matius sendiri, dalam pasal 5: 17 yang menyatakan bahwa Yesus tidak menghapuskan Hukum Taurat (termasuk hukum haramnya babi).
Mengkritisi Halalnya Babi dalam Injil
Alasan lain yang sejalan dengan Injil Matius, disebutkan dalam Markus 7: 14-19 yang berisikan sabda Yesus bahwa semua makanan itu halal, karena dalam ujung ayat 19 itu disebutkan: “Dengan demikian Yesus menyatakan semua makanan halal”
Dalam Alkitab Today’s English Version 1976, kalimat Injil Markus 7: 14-19 ini “Dengan demikian Yesus menyatakan semua makanan halal” itu ditulis dalam tanda kurung, karena masih diragukan otentitasnya. Demikian kutipannya: “(In saying this, Jesus declared that all foods are fit to be eaten.)”
Injil Markus ini harus dikaji ulang keabsahannya, karena dalam beberapa kisah tentang biografi Yesus yang diriwayatkannya, banyak yang bertentangan dengan kondisi masyarakat tempat Yesus tinggal dan hidup. Misalnya, Injil Markus 5: 9-14 yang mengisahkan bahwa Yesus mengizinkan setan-setan yang bernama Legion masuk dan membunuh 2.000 ekor babi di Gerasa.
“Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya. Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan menceriterakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi” (Markus 5: 13-14).
Validitas data ayat ini sangat bertolak belakang dengan kondisi masyarakat Yahudi yang sangat mengharamkan babi. Di masyarakat yang sangat babi, mustahil ada ternak babi yang omsetnya mencapai ribuan. Dengan tingkat validitas yang dhaif, maka tidak heran jika para tafsir Alkitab dari Katolik mengomentari banyaknya ayat-ayat palsu dalam Injil Markus. Hal ini bisa dilihat dalam Kitab Suci Perjanjian Baru cetakan Arnoldus Ende, Flores tahun 1977/1978. Copy lampiran selengkapnya bisa dilihat dalam buku Dokumen Pemalsuan Alkitab (Bibel) karya M. Samuel.
Mengkritisi Ajaran Paulus
Masih ada lagi ayat pegangan penginjil untuk menyatakan bahwa babi itu halal, yaitu sabda Paulus dalam Alkitab (Bibel) yang menyatakan bahwa tak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat.
“Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus…. Sebab: “tidak ada seorang pun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat” (Surat Paulus kepada Jemaat Galatia 2: 16).
Memang, intisari ajaran Paulus adalah merombak ajaran para nabi dengan menghapuskan hukum Taurat terlebih dahulu. Hal ini bisa disimak dalam berbagai ayat tulisan Paulus dalam Alkitab (Bibel), antara lain:
“Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat” (Roma 7: 6).
“Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: “Orang yang benar akan hidup oleh iman” (Galatia 3: 11).
Masih banyak lagi ayat-ayat kampanye Paulus untuk menghapuskan hukum Taurat. Jika ajaran Paulus ini disosialisasikan, maka betapa rusaknya tatanan masyarakat dunia. Karena hukum Taurat tidak semuanya bertentangan dengan zaman. Masih banyak hukum-hukum yang masih sesuai dengan perkembangan zaman bahkan mustahil dihapuskan dan sesuai dengan syariat agama, misalnya:
Larangan menyembah patung. “Jangan sujud menyembah kepada patung atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu” (Keluaran 20: 5). Jika hukum Taurat ini dilarang atau tidak dibenarkan, berarti Paulus telah membolehkan orang bersujud menyembah patung, baik patung bunda Maria ataupun patung-patung dan arca keramat lainnya.
Perintah hormat kepada ayah dan ibu. “Hormatilah ayahmu dan ibumu” (Keluaran 20: 12). Jika hukum Taurat ini tidak boleh diamalkan, maka lahirlah generasi-generasi bejat yang durhaka kepada orang tua dan tidak tahu balas budi.
Larangan membunuh, zinah dan mencuri. “Jangan membunuh. Jangan berzinah. Jangan mencuri. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu” (Keluaran 20: 13-16). Jika larangan tindak kriminil dan asusila ini tidak dibenarkan atau dilarang diterapkan, maka masyarakat semakin kacau-balau. Darah dan nyawa tidak ada harganya seperti binatang; perzinahan dan perselingkuhan semakin meraja lela; pencurian, perampokan dan penipuan semakin mengancam masyarakat.
Dan masih banyak lagi hukum Taurat yang masih bisa diterapkan dan tidak bertentangan dengan syariat akan terhapuskan, jika doktrin Paulus ini lebih diutamakan daripada ajaran para nabi dalam kitab-kitab suci.
Menyikapi Babi Secara Adil
Menyikapi berbagai konsep ajaran tentang babi, pandangan Islam sudah jelas dan baku. Babi adalah haram dzati (haram zatnya). Hikmahnya sangat banyak sesuai dalam pembahasan edisi lalu. Bagi para penginjil yang hobi menciptakan pelesetan yang menghina Islam, silahkan berpikir dengan jernih, ajaran mana yang sesuai dengan akal, kesehatan dan syariat agama. Untuk menyikapi doktrin Paulus yang merombak hukum peninggalan para nabi terdahulu, silakan renungkan sabda Yesus dalam Alkitab berikut:
“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas” (Matius 7: 15).
Dan masih banyak lagi hukum Taurat yang masih bisa diterapkan dan tidak bertentangan dengan syariat akan terhapuskan, jika doktrin Paulus ini lebih diutamakan daripada ajaran para nabi dalam kitab-kitab suci.

Malam Pertama

22 Jun

Setelah menunggu lebih dari satu tahun, Sagotra berhasil menyanding Winihan di kamar pengantin. karya Herjaka HS, Januari 2010
Malam Pertama
Ki Sagotra dan Rara Winihan tak pernah berkedhip memandangi Harjuna meninggalkan halaman rumah. Ketika Harjuna tidak kelihatan lagi, kedua pasang mata tersebut saling bertatap. Ada getar menyentuh kalbu. Oh betapa menjejukkan pandangan matamu kakang. kata Winihan dalam hati. Demikian pula Ki Lurah Sagotra pun merasa sesuatu yang istimewa. Mengapa tidak dari dahulu bola matamu kau biarkan telanjang dihadapanku? Keduanya menatap semakin dekat. Dan kemudian rara Winihan menempelkan badannya yang lunak dan hangat ke dalam pelukan Ki Lurah Sagotra. Keduanya berpelukan sangat erat, takut untuk berpisah. Mereka disadarkan, bahwa selama ini mereka telah menyia-nyiakan cinta yang dianugerahkan.
“Kakang aku mencintaimu”
“Winihan”
Cukup hanya menyebut namanya saja, setelah itu Sagotra tak kuasa meneruskan kata-katanya. Kebahagiaannya melebihi keindahan kata-kata. Pelukan isterinya yang pasrah, membuat Lurah muda itu terharu. Terharu karena dirinya mulai dipercaya oleh isterinya untuk menjadi pelindung keluarga yang menentramkan.
Senja mulai merambat malam. Bulan separo tanggal telah menggelantung di langit untuk menemani bintang-bintang yang bertaburan menghias langit. Lampu-lampu minyak dan lentera mulai dinyalakan. Baik di dalam rumah maupun di sudut halaman, untuk menyisihkan pekatnya malam.
Di rumah induk bagian tengah sebelah kanan, ada kamar yang disebutnya dengan kamar pengantin. Namun sejak diset pertama kali yaitu pada waktu Sagotra dan Winihan diresmikan sebagai suami isteri hingga sekarang kamar tersebut belum pernah dipakai. Namun walaupun begitu, kamar tersebut selalu harum semerbak, rapi dan bersih. Jika bunga yang ada mulai layu, akan segera diganti dengan yang baru. Setiap hari Sagotra memasuki kamar tersebut dengan tujuan untuk sebuah harapan. Harapan yang selalu dihidupi dan diperbaharui setiap hari. Harapan sebuah kepastian, bahwa pada saatnya nanti ia dan isterinya dapat mengfungsikan kamar pengantin tersebut sebagai mana mestinya.
Malam itu, hari yang ke 369 sejak pernikahannya, Sagotra dan Winihan beriringan memasuki kamar pengantin. Ada tanda-tanda bahwa harapan Sagotra akan segera terwujud. Harapan untuk mengfungsikan kamar pengantin benar-benar sebagai kamar pengantin. Setelah keduanya memasuki kamar, sebentar kemudian suara pintu berderit lembut, dan kamarpun tertutup rapi. Tidak ada lagi sarana yang dapat menggambarkan betapa nikmat dan mulianya malam itu. Malam pertama bagi pasangan Sagotra dan winihan.di kamar pengantin yang telah diset lebih dari setahun lalu. Dan kidung malam pun menggema di dasar sanubari kedua insan yang sedang memadu kasih.
bagaikan anak kidang
haus akan telaga.
entah berapa waktu dapat bertahan
jikalau tak mendapatkan
seteguk pelepas dahaga
beruntunglah ketika kekeringan
belum benar-benar kering
air mata masih menetes
dan cinta pun masih tersisa
langit bermurah hati
mengguyur segar lingga dan yoni
dewa dan dewi kesuburan berdendang suka
membaca mantra asmara
dhuh Gusti …
nikmat-Mu adalah abadi
mengabadikan
nikmat kami
malam ini
malam pertama
“Rara Winihan, apa yang engkau inginkan?
“Anak laki-laki yang gagah dan sakti Kakang?
“Mengapa tidak menginginkan anak perempuan yang cantik?
“Siapakah nanti yang akan melindungi?”
“Tentu saja aku “
“Sungguh Kakang? Jika yang mengancam Prabu Dwaka?”
“E .. e… e….
Mendengar nama Prabu Dwaka atau lebih sering disebut Prabu Baka, Ki Lurah desa Sagotra tersebut mendadak kelu lidah. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Badannya menjadi semakin dingin ketika angin pagi yang membawa embun mulai membasahi genteng dan dinding rumah lurah desa Kabayakan. Sagotra menyesali, kenaapa pada saat-saat yang sangat membahagiakan ini tiba-tiba saja pembicaraan mereka meski sampai kepada nama Prabu Baka? Tidak saja bagi Sagotra, nama Prabu Baka adalah nama yang mampu membuat banyak orang ketakutan. Terutama bagi rakyat di seluruh wilyah negara Ekacakra, termasuk desa Kabayakan.
Prabu Dwaka atau Baka adalah raja yang berkuasa di negara Manahilan atau Ekacakra. Ia bertulang besar, berkekuatan seribu gajah dan saktimandraguna. Namun sayang kedahsyatannya sang raja tidak diperuntukan untuk mengayomi kawula, tetapi justru untuk menancapkan sifat arogansi yang tidak manusiawi demi untuk memuaskan nafsu pribadinya. Perlu diketahui bahwa Prabu Baka mempunyai kebiasaan yang mengerikan dan sekaligus menjijikkan. yaitu, setiap bulan tua ia meminta disediakan satu orang manusia untuk disantap. Kebiasaan itulah yang telah menebar rasa takut dan kengerian yang berlebihan bagi setiap rakyatnya. Namun karena dia raja yang berkuasa, kuat dan sakti, tidak ada yang berani menentangnya, termasuk juga Ki Lurah Sagotra.
Ketidak beranian Lurah Sagotra untuk melindungi warganya itulah yang menyebabkan Rara Winihan dan warga Desa Kabayakan kecewa. Padahal sebelum Sagotra dipilih menjadi Lurah, ia dengan lantang berjanji akan melindungi serta membela warganya dari berbagai ancaman bahaya, baik dari dalam maupun dari luar negara.
Namun setelah dipilih dan diangkat oleh penduduk menjadi lurah desa Kabayakan, Sagotra tidak menepati janji. Lurah Muda tersebut tidak berani melindungi salah satu warganya yang diambil paksa oleh utusan Prabu Baka untuk dijadikan korban. Yang lebih memukul warga kabayakan adalah bahwa pengambilan paksa tersebut dilakukan pada saat warga Desa Kabayakan sedang punya gawe, yaitu malam midodareni perkawinannya Lurah Muda Sagotra dengan Rara Winihan. Atas kejadian tersebut, warga Desa Kabayakan sangat kecewa dengan sikap Lurah Sagotra yang membiarkan salah satu warganya ditangkap diikat dan dimasukan ke dalam gerobag, untuk kemudian dibawa ke Ekacakra..
Sepeninggal utusan Prabu Baka, desa Kabayakan berkabung Rangkaian Upacara Perkawinan di rumah Rara Winihan tetap berlangsung, tetapi tidak ada suka cita di sana.. Rara Winihan yang mejadi pusat dan pelaku utama upacara perkawinan justru menunjukan wajah yang gelap dan sedih. Dibanding Sagotra, Rara Winihan lebih dapat merasakan jeritan ketakutan warga Kabayakan. Ia sangat kecewa mempunyai seorang Lurah yang tidak dapat dijadikan pelinndung warganya. Apalagi Lurah tersebut sebentar lagi akan menjadi suaminya. Lalu bagaimana jika nantinya dirinya yang terancam? Apakah ia berani melindungi? Aku tidak mau mempunyai seorang suami penakut, tidak berani melindungi isterinya dan tidak peduli dengan rakyatnya.
Oleh karena kekecewaan Rara Winihan atas diri Lurah Sagotra, ia berjanji dalam hati, tidak mau menjadi isteri Sagotra jika Sagotra tidak dapat membuktikan bahwa ia adalah pelindung bagi isterinya dan rakyatnya. Walaupun waktu itu, Rara Winihan tetap diresmikan menjadi Isteri Sagotra, lebih dari setahun ia tidak mau melayani Sagotra sebagai suami. Beruntunglah pada hari ke 369 sejak ia menikah dan sejak tragedi di Kabayakan, pertolongan datang. Ada sebuah peristiwa yang menjadikan Sagotra berperan sebagai pelindung atas Rara Winihan yang ketakutan dibuntuti Harjuna. Dan buahnya adalah: Malam Pertama.
Herjaka HS

Kethoprak

20 Jun

Tumenggung Wiraguna, penguasa nDalem Wiragunan di wilayah Kerajaan Mataram, sangat terobsesi untuk mengambil Roro Mendut sebagai garwa selir. Namun, Roro Mendut bersikukuh menolak dengan berbagai cara karena dia memang tidak memendam cinta kepada Wiraguna.

Sang istri tertua, yakni Raden Ayu Arumardi yang hingga usia senja belum memberi anak, dijadikan alasan untuk melamar Mendut. Wiraguna resah ke mana menyerahkan warisan harta bendanya jika tidak mempunyai keturunan.

Semua paksaan Wiraguna kepada Mendut menemui jalan buntu. Mendut lalu ditindas agar mengembalikan uang biaya hidup selama tinggal di Wiragunan. Tak mau utang budi, Mendut menyanggupinya. Namun, Wiraguna diminta menyediakan modal untuk berdagang rokok di pasar. Di pasar itulah, Mendut berkenalan dengan Pranacitra, seorang pemuda dari kampung. Mereka ternyata malah saling memendam asmara. Pranacitra kemudian berjanji membawa Mendut ke luar dari nDalem Wiragunan.

Begitulah ringkasan cerita lakon Oh& Roro Mendut yang dibawakan kelompok Kethoprak Kartini Mataram Yogyakarta, saat tampil memeriahkan peringatan HUT Ke-250 Kota Yogyakarta, di halaman Balaikota Yogyakarta, Selasa (22/8) malam.

Kesetaraan jender jadi pesan hakiki yang tersurat dan tersirat dalam pementasan oleh Kartini Mataram yang semua personelnya adalah kaum wanita ini. Hampir dua jam, isu-isu kesetaraan jender mereka angkat dalam banyolan-banyolan segar yang menggelitik.

Kukuhnya wanita

Sosok Mendut yang diperankan Yati Pesek, diangkat menjadi simbol kesetaraan jender, gambaran kukuhnya pendirian seorang wanita. Ia bergeming dengan kemasyhuran seorang tumenggung. Menjadi istri tumenggung, sebuah jabatan prestisius di zaman tersebut, diemohi Mendut.

“Urip bebrayan menika mboten urusan bandha, nanging katresnan (hidup berkeluarga itu tidak tentang urusan harta, tetapi tentang sayang, kecocokan hati),” tutur Mendut ketika dipaksa Wiraguna.

Ketidakberdayaan wanita menghadapi kaum laki-laki yang saat ini nyata masih dijumpai di lapangan, pada pementasan itu dicoba dikikis habis.

Kartini Mataram mencoba memaparkan sekelumit kisah seorang wanita ketika dihadapkan pada pilihan kemasyhuran materi dan kemapanan. Mendut berhasil mengarahkan “jalan” ketika dirinya minta dibuatkan gerobak surungan berikut modal untuk jualan rokok. Situasi pasar yang kumuh dan ramai jelas mengundang keusilan lelaki. Termasuk niat Joko Lelur, diperankan Yu Beruk, pemuda “bloon” asal kampung yang menaruh hati pada kecantikan Mendut.

Sejumput nuansa kesetaraan jender jujur terlukis secara jenaka saat adegan “jual-beli” rokok antara Mendut, yang dibantu abdinya itu, dengan para calon pembeli. Di panggung, para pemeran wanita yang sebagian sudah tergolong tidak muda lagi dan senior itu enteng saja mengepulkan asap rokok di depan ratusan penonton.

Pemimpin Kethoprak Kartini Mataram Yati Pesek mengatakan, isu kesetaraan jender inilah yang akan selalu diangkat di setiap pementasan.

“Seperti laki-laki, wanita pun bebas menentukan sikap dan pilihan hidup,” ucapnya.

Keterbatasan

Hanya saja, lanjut dia, masih banyak “keterbatasan” di lapangan yang mengungkung kebebasan wanita. Dan sayangnya, banyak wanita yang tidak merasa terkungkung atau malah memilih pasrah saja dengan keadaan, meski ia tertekan. Padahal, di sisi lain pasti akan ada jalan untuk solusi.

Pendobrakan akan hal-hal seperti itulah yang ingin disuarakan Kartini Mataram. Mengangkat isu kesetaraan jender untuk menyuarakan bahwa wanita juga punya hak atas dirinya sendiri, sebagai pribadi yang bebas, tanpa harus terlepas dari jati diri sebagai seorang wanita.

Yati Pesek dengan sadar memanfaatkan kesenian tradisi seperti ketoprak sebagai media untuk melontarkan isu seperti kesetaraan jender. Sebab, pada masyarakat “tradisi” inilah kasus-kasus pelecehan dan kekerasan terhadap wanita sering kali terjadi.

Hello world!

20 Jun

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!